Pojok Dekan

Reputasi Syekh Nawawi tak Diragukan

Kiprah Syekh Nawawi al-Bantani dalam membangun pemikiran keagamaan di nusantara sangat besar. Upaya itu, menurut Prof Rosihon Anwar, antara lain, dilakukan melalui karya- karyanya yang luar biasa dalam ilmu tafsir, tasawuf, fikih,...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

PUI : Latar Belakang & Perkembangannya (1911-2011)

Disertasi ini berisi uraian tentang Latar Belakang dan Perkembangan Persatuan Ummat Islam dari 1911-2011. Ketertarikan Promovendus untuk meneliti Persatuan Ummat Islam, karena beberapa alasan:
1. Proses Kelahiran Persatuan Ummat...

Arsip
Aktivitas Dosen

Deni Miharja : Pegiat Budaya Lokal

Dr. Deni Miharja, M.Ag., kelahiran Ciamis Jawa Barat pada tanggal 25 Agustus 1977 merupakan dosen pengampu Studi Budaya Lokal pada Jurusan Perbandingan Agama (PA) Fakultas Ushuluddin UIN SGD
Bandung sejak tahun 2005 sampai...

Arsip

Dr. Ahmad Lufti Fathullah, MA, Membuat Hadits Mudah Dipelajari
Update: Jumat, 19-APR-2013

Sebagian orang sengaja menolak Hadits karena dianggap rumit dan njelimet. Untuk mencari sebuah Hadits saja harus membuka kitab-kitab yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi kitab-kitab itu ditulis oleh banyak orang sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan sangat besar.

Atas alasan itu sebagian kaum Muslim tidak mau menerima Hadits sebagai hujjah. Bahkan, mereka sengaja membuat metodologi sendiri dalam memahami dien Islam, yaitu hanya menginterpretasi al-Qur’an berdasar logika saja, tanpa melirik sunnah.

“Padahal sahabat telah sepakat bahwa Hadits itu hujjah,” kata DR Lutfi Fathullah, doktor bidang Hadits.

Tidak ada satu pun sahabat yang hanya beramal dengan al-Qur’an. Kalau pun ada, itu karena riwayat yang menerangkan soal Hadits tersebut meragukannya, bukan karena menolak Hadits tersebut. Mereka hanya tidak yakin dengan kesahihan sebuah Hadits yang mereka terima atau karena ada Hadits lain yang lebih kuat.

“Mereka yang tidak mau menerima Hadits berarti tidak paham al-Qur`an atau malas belajar Hadits,” terang dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung dan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Untuk membuktikan bahwa mempelajari Hadits itu mudah, Lutfi membuat proyek indeksasi Hadits. “Tujuan proyek ini untuk mempermudah orang mencari Hadits di kitab-kitab Hadits,” terang lulusan S2 Universitas Syiriah ini. Dengan proyek ini, tidak ada lagi alasan bagi seseorang malas belajar Hadits, apalagi sampai menolaknya.

“Kitab yang kita indeksasi di antaranya Shahih Bukhari, kitab al-Umm, kitab-kitab Hadits lainnya, hingga kitab Hadits yang tidak bersanad,” jelasnya. Kitab-kitab tersebut sudah dikenal di dunia internasional.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang proyek tersebut, wartawan majalah Suara Hidayatullah, Dwi Budiman dan Surya Fahrizal menemui alumni S3, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Malaysia, ini di rumahnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Kabarnya Anda sedang mengerjakan proyek besar, indeksasi al-Hadits. Bisa diceritakan?

Sebenarnya indeks Hadits itu sudah ada dalam bahasa Arab. Yang paling besar dibuat oleh Ustadz Zaghlul, yang merangkum 150 kitab. Kemudian ada tambahannya 100 kitab lagi, jadi 250 kitab.

Cuma kekurangannya, kitab-kitab di sana banyak yang tidak dikenal di Indonesia. Sebaliknya, kitab yang dikenal di Indonesia tidak masuk di dalam indeks itu. Akibatnya, manfaat kitab-kitab di sana agak kurang dirasa bagi pengkaji Hadits di Indonesia.

Namun untuk para pengkaji Hadits secara umum indeks itu luar biasa. Nah, kita harus menutupi kekurangan ini. Karena itulah saya garap proyek indeksasi Hadits ini.

Bagaimana cara Anda mengindeksasinya?

Dengan mengakomodir kitab-kitab Hadits yang populer di Indonesia. Dua puluh lima kitab Hadits yang pupuler di Indonesia dan 25 kitab Hadits yang populer di dunia.

Di antara kitab Hadits lokal yaitu Qurratul ‘Uyun, ‘Uqudul Lujjain, al-Arbain, kitab-kitab karya an-Nawawi (Banten). Ini semua kita masukkan dalam indeks.

Kita sangat selektif dalam pemilihan kitab-kitab yang kita masukkan dalam indeks. Ke 25 kitab lokal tersebut harus sangat dikenal di pesantren. Yang 25 lagi harus menjadi sumber rujukan.
Harapan kita, dengan diindeksasinya kitab-kitab Hadits lokal tadi, akan memudahkan anak-anak pesantren mencari atau merujuk suatu Hadits.

Bagaimana model indeksnya?

Hanya athrafnya saja. Athraf itu ujung. Misalnya innamal a’malu binniyyat atau laa yu’minu ahadukum. Dengan melihat indeks, kita bisa mengetahui di mana Hadits tersebut ditemukan dan di kitab apa saja.

Apakah derajat-derajat Hadits, seperti shahih, hasan, atau dhaif terdapat di indeks tersebut?

Tidak. Contonya seperti Hadist yang popular, hubbul wathan minal iiman (mencintai negara sebagian dari iman), tidak termasuk Hadits shahih. Informasi ini tidak kita masukkan di situ. Ini cuma indeks. Jadi, Hadits tersebut bisa dicari di kitab yang kita isyaratkan. Baru di kitab Hadits yang dirujuk itu akan dikupas soal shahih atau tidaknya.

Seberapa penting proyek ini?

Ini sangat membantu orang-orang pesantren. Maaf ya, saat ini sedang ada hang (gangguan). Karena di kitab lokal yang biasa kita baca, tidak ada isyaratnya di kitab induk. Jadi, usaha ini untuk menjembatani antara kitab yang ada di Indonesia dengan kitab induk yang populer di dunia tadi.

Walhasil, santri di mana pun akan mudah merujuk Hadits-hadits yang terdapat di kitab-kitab kuning yang mereka baca ke kitab-kitab induknya.

Selain itu, di kitab-kitab yang terkenal di pesantren tidak terdapat keterangan derajat shahih atau tidaknya suatu hadits. Sanadnya pun tidak ada. Cuma matan saja. Untuk meneliti otentisitasnya kan harus di kitab induk. Jadi saya jembatani masalah itu.

Rencananya, indeks tersebut akan dibuat dalam format apa? Dalam format cetak atau digital?

Kita akan buat dalam bentuk kitab (cetak). Sekarang ini untuk huruf alif sudah selesai. Untuk huruf alif, kami kumpulkan sekitar 5.000 Hadits. Pengerjaannya dibantu para mahasiswi dalam bentuk skripsi. Dari 10 mahasiswi, 7 orang di antaranya sudah selesai. Tinggal 3 orang. Dan (akan ada) 10 orang lagi. Insya Allah, targetnya bulan Ramadhan atau Syawal tahun ini akan selesai. Tinggal penggabungan.

Selain indeksasi Hadits, ada proyek lain yang Anda kerjakan?

Sebenarnya saya ada dua proyek, indeksasi Hadits dan Ulumul Hadits dalam bentuk CD. Yang saya tangani langsung Ulumul Hadits. Di indeksasi, saya hanya koordinator saja.

Apa latar belakang Anda membuat program ini?

Karena banyak orang yang mengeluhkan susahnya belajar ilmu Hadits. Saya juga sudah menguji kemampuan ilmu hadits mahasiswa S1 dan S2, ternyata sama. Yang mereka tahu tentang Hadits hanya definisi dan contohnya saja. Sedangkan sanadnya seperti apa, tidak terbayang oleh mereka. Karena mereka belajar hadits hanya dari kitab-kitab sekunder yang tidak ada sanadnya. Akibatnya akan kesulitan belajar sanad seperti istilah mu’an’an, mu’an’in, atau istilah mursal.

Bagaimana metode Anda mengajar Hadits selama ini?

Saya perintahkan para mahasiswa untuk pergi ke perpustakaan, kemudian mencatat 10 sampai 20 Hadits dari kitab Shahih Bukhari, misalnya. Kemudian mereka harus membuat skema sanadnya. Keesokan harinya laporan.
Esoknya masing-masing akan membawa dan mencontohkan 10 sampai 20 Hadits shahih yang mereka dapat. Pertemuan kedua, masing-masing mereka akan membawa lagi 25 Hadits shahih. Sehingga jumlah Jadits shahih yang mereka tahu akan bertambah.

Skema sanadnya juga akan dijelaskan. Apa itu ‘an, haddatsana, sami’tu. Kenapa yang ini pakai sami’tu sedang yang lain pakai qala? Bagaimana praktiknya?

Bagaimana hasil metode baru itu?

Terdapat peningkatan jumlah mahasiswa yang tertarik meneliti Hadits untuk skripsi. Awalnya jumlahnya hanya sekitar 10-25 persen. Tahun berikutnya naik menjadi 20-30 persen. Tahun kemarin ada 56 persen. Sisanya tafsir.

Bagaimana cara kerja software CD Ulumul Hadits tadi?

Tinggal klik saja. Ingin tahu definisi Hadits, tinggal klik menu Hadits. Ingin tahu soal “sahabat”, tinggal klik. Maka akan muncul definisi sahabat dan hal-hal yang berkaitan dengan sahabat. Ada juga Rijalul Hadits, Ilmu Musthalah Hadits, Kitab-kitab Hadits, sanad, biografi para ahli Hadits, dan segala hal yang berkaitan dengan ilmu Hadits. Semuanya tinggal klik, dan berbahasa Indonesia.

Apakah programnya sudah jadi?

Sekarang bahannya tinggal di-switch (alihkan) ke program (digital). Saat ini bahannya masih dalam format Power Point. Sudah sekitar 85-90 persen. Tinggal saya koreksi sedikit lagi.

Kapan akan diluncurkan?

Kalau targetnya akan selesai bulan Ramadhan. Diluncurkan (ke pasar) Syawal, atau setelah itu.

Anda sudah mencobakan program tersebut kepada mahasiswa Anda?

Alhamdulillah, saya sudah presentasi program di S1, S2, dan S3 di UIN. Kini semuanya menuggu selesainya CD program Ulumul Hadits ini.

Setelah saya presentasikan, saya katakan juga kepada mereka, kalian pakai CD ini dan ikut pelatihannya satu hari, esok sudah bisa jadi dosen ilmu Hadits untuk S1 bahkan untuk S2.

Hati-hati Hadits Palsu
Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pegangan hidup umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sendiri yang akan menjaga al-Qur’an dari pengubahan, penambahan, atau pengurangan, walaupun hanya satu huruf atau satu harakat saja.

Begitu pula dengan As Sunnah (al-Hadits) sebagai penjaga makna atau penjelas al-Qur’an, akan terjaga sampai akhir zaman. Maka, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membuat-buat Hadits dusta kecuali akan terkuak kepalsuannya.
“Dalam ilmu Hadits dikenal adanya sanad. Dengan sanad ini para ulama ahli Hadits bisa membedakan manakah Hadits shahih, dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu),” terang Lutfi.

Sanad adalah susunan orang-orang yang meriwayatkan Hadits. Para periwayat tersebut diperiksa satu persatu secara ketat tentang riwayat hidupnya, apakah ia seorang jujur ataukah pendusta, hafalannya kuat ataukah lemah dan pemeriksaan ketat lainnya. Jika seluruh rawi dalam sanad Hadits lulus pemeriksaan maka Hadits tersebut berstatus shahih yang wajib kita jadikan pegangan hidup. Dengan demikian mudah tersingkapl Hadits-hadits palsu yang beredar.

“Di negera kita banyak Hadits lemah dan palsu yang beredar,” jelas putra Betawi ini. Tersebarnya Hadits palsu dikarenakan umat Islam Indonesia tidak selektif dalam mendengar dan mengambil Hadits. Mereka tidak tahu ilmu Hadits.

Di samping itu juga banyak dai yang memang menggembor-gemborkan Hadits-hadits tersebut.
“Kalau Hadits palsu digunakan, berarti bohong atas nama Nabi Shalallhu alai wasalam. Maka jangan sampai hal ini berkelanjutan,” terangnya. Sebab, pemakaian Hadits palsu akan menimbulkan masalah dan penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat, beribadah, berakhlak, dan berakidah.

Maka dari itu, sudah seharusnya kaum Muslimin berhati-hati menerima periwayatan suatu Hadits. Jika Hadits tersebut tidak diketahui sumbernya maupun yang sudah dinilai oleh para ulama sebagai Hadits palsu, maka buang jauh.

Di antara Hadits-hadts palsu yang beredar di masyarakat, Hadits seperti apa yang berbahaya bagi akidah?

Yang dekat saja ya. Ini kaitannya dengan disertasi saya. Di situ saya meneliti kitab Durratun Nashiihin. Ada sekitar 30 persen Hadits palsu dalam kitab tersebut. Itu menurut penelitian saya. Kalaupun salah, paling salahnya cuma 5 persen. Dan hasil penelitian saya bisa dipertanggung jawabkan sacara akademis.

Berarti semua Hadits dalam kitab tersebut Anda takhrij?

Iya. Takhrij itu pada dasarnya dalam rangka penjelasan kedudukan Hadits, atau pemurnian Hadits, jika kitab tersebut banyak sekali mengandung Hadits-hadits palsu. Caranya, jelaskan serta pilah mana Hadits yang shahih, hasan, dha’if dan palsu.

Bisa sebutkan contoh Hadits palsu dalam kitab tersebut?

Contohnya, Hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih. Dari Ali Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallaam ditanya tentang keutamaan shalat tarawih, (katanya) malam pertama pahalanya sekian, malam kedua sekian, dan sampai malam ketiga puluh.
Itu kan tidak logis. Cari di referensi kitab-kitab Hadits mana pun tidak akan ketemu. Karena memang tidak ada Hadits seperti itu. Jika diteliti dengan tolak ukur ilmu kritik sanad atau kritik matan, paling-paling hasilnya palsu. Di samping itu memang tidak ada sanadnya.

Bagaimana ciri- ciri Hadits palsu?

Berlebih-lebihan. Motif pemalsuan Hadits rata-rata untuk memacu orang agar berbuat baik. Kebanyakan tentang fadhail ‘amal, atau keutamaan beramal.

Bagaimana pemalsuan Hadits bisa terjadi?

Ada perbedaan konsep antara sufi dengan muhadits (ahli Hadits). Muhadits cenderung mengatakan, bohong atas nama Rasulullah, baik dengan tujuan positif apalagi negatif, tidak boleh. Kalau orang sufi, bohong atas nama Rasulullah untuk kebaikan tidak apa-apa.
Karena muhadits meyakini Hadits Rasulullah SAW yang diriwatkan Imam Muslim, “… fa man kadzdzaba ‘alayya muta’ammidan, fal yatabawwa` maq’adahu minannar.” Barang siapa berbohong mengatasnamakan aku (Rasullullah) dengan sengaja, hendaklah dia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka.

Kitab berisi Hadits palsu banyak beredar di pesantren dan di kalangan Nahdiyyin. Anda juga berlatar belakang Nahdiyyin. Bagaimana Anda menerangkannya?

Pernah dalam pengajian ibu-ibu, saya membuat suatu permisalan. Saya tanyakan kepada mereka. Jika satu orang yang mau memberi uang satu miliyar, tapi palsu. Sedang orang yang lainnya mau kasih satu juta, namun uang asli. Mana yang akan dipilih? Yang asli atau yang palsu? Pasti yang asli walau jumlahnya lebih sedikit. Karena uang palsu tidak ada nilainya. Begitu juga dengan Hadits palsu.

Bagaimana jika ada yang menolak penjelasan Anda dengan dalih Hadits tersebut diamalkan oleh Kiai atau Ustadznya?

Yang jadi dalil kan al-Qur`an dan Hadits. Firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW. Bukan perkataan Kiai atau Ustadz.

Apa hal itu terjadi karena lemahnya metode pengajaran Hadits di sini?

Pengajaran Hadits di Indonesia memang lemah. Di sini orang belajar Hadits bersanad hanya tabarruk-an (mencari berkah). Di Jakarta banyak yang ketika Ramadhan khatam baca kitab Shahih Bukhari. Ada yang cuma bulan Rajab. Ada yang selama seminggu khatam Shahih Bukhari. Padahal Imam Bukhari saja tidak khatam dalam satu minggu. Karena dibacanya cepat-cepat sekali.

Selain itu kita menggunakan kitab Hadits bukan kitab asalnya. Kitab yang kita pakai adalah kitab sekundernya atau kitab kumpulannya. Kitab kumpulan pun bukan yang standar sebagaimana Riyadush Shalilhin atau Bulughul Maram, tetapi kitab kumpulan Hadits yang tidak standar.

Apa alasannya?

Karena di kitab-kitab yang tidak standar itu pahalanya besar. Kalau di Riyaduhs Shalihin pahalanya biasa-biasa saja. Contohnya, kalau pahala puasa di Riyadush Shalihin, barang siapa puasa di bulan Ramadhan, akan terampunkan dosa-dosanya yang telah lalu. Tapi kalau di kitab Hadits palsu pahalanya banyak, dan panjang sekali.


Mendirikan Pusat Kajian Hadits (PKH)

Lutfi Fathullah lahir di Jakarta 44 tahun lalu. Ia putra seorang ulama Betawi yang disegani bernama guru Mughni. Pendidikan dasarnya dihabiskan di Jakarta. Kemudian melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor.

Lulus dari Gontor ia melanjutkan ke Universitas Damaskus, Syiriah, dalam bidang Hadits. Sewaktu di Syiriah ia pernah dipercaya sebagai ketua PPI Syiria. Dia juga menemukan jodohnya di negeri tersebut. Ia mempersunting
Jihan Azhari, wanita keturunan Syria-Indonesia. Dari pernikahan tersebut ia dikarunia tiga putra, Hanin Fathullah (13), Hadi Fathullah (8) dan Rahaf Fathullah (6).

Lulus dari sana ia melanjutkan masternya (S2) di Universitas Jordan, Yordania. Kemudian mengambil S3 di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dengan disertasi Kajian Hadits Kitab Durratun Nasiihin tahun 2000.

Kini ia mengajar di beberapa perguruan tinggi seperti UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, IAIN Bandung, IIQ Jakarta, dan Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Selain itu ia menjabat Direktur Perguruan Islam Al-Mughni dan Direktur Lembaga Pengkajaian dan Penelitian al-Qur’an dan Hadits (LP2QH).

Saat ini ia sedang merampungkan sebuah Islamic Centre setinggi delapan lantai. Dua lantai pertama akan dijadikan Pusat Kajian Hadits (PKH). PKH ini telah diresmikan beberapa waktu lalu oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Di dalamnya terdapat perpustakaan khusus Hadits, ”Sekarang sudah ada 500 judul kitab Hadits dalam bahasa Arab,” ujar ayah tiga putra ini.

Selain itu ada buku-buku Hadits dalam bahasa Indonesia. ”Perpustakaan ini akan menjadi perpustakaan Hadits terbesar dan terlengkap di Indonesia”, jelasnya lagi.

Kelak, perpustakaan ini akan dilengkapi dengan sarana pencari Hadits digital. Untuk kenyamanan pengunjung, disediakan pula mesin fotocopy dan tempat istirahat, bahkan bermalam.

”Konsepnya ini semua gratis. Sehingga mahasiswa yang akan menyelesaikan tesis atau disertasi tentang hadits cukup di sini saja”, ujarnya lagi.

Dengan berdirinya gedung ini diharapkan umat Islam serius mengkaji Hadits. Sebab, kata Lutfi, orientalis sangat serius mengkaji Hadits. Mereka tahu Hadits dan al-Qur’an adalah tiang agama yang disepakati oleh semua umat Islam. sedang ijma’ ada yang setuju dan tidak. Mereka ingin meruntuhkan Islam lewat Hadits ini.

Namun, Lutfi punya keyakinan bahwa kajian Hadits yang dilakukan orientalis tidak banyak berpengaruh di dunia Islam. “Mereka hanya membahas kulit-kulitnya saja. Itu pun sudah dicounter oleh para ulama kita,”alasan Lutfi.

Sebagai contoh, dulu para orientalis mengatakan bahwa Hadits bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW. Setelah pendapat ini terbantahkan mereka mengatakan bahwa Hadits itu bisa saja benar dari Nabi Muhammad SAW, tapi isinya sudah tidak sesuai dengan zaman.

“Inipun sudah terbantahkan,” jelas lelaki yang senang membikin pantun Betawi yang isinya berdasarkan Hadits-hadits shahih ini.

Demikian juga tentang pengklasifikasian Hadits yang dipersoalkan orientalis, sudah dijawab oleh para ulama. Orientalis ragu karena tidak ada bukti materilnya (fisik) bahwa itu berasal dari Nabi Muhammad.

“Kalau Firaun mereka percaya karena ada bukti materil yaitu pyramid,” tambahnya.

Sikap orientalis seperti itu, menurut Lutfi, karena mereka tidak percaya dengan sistem rawi yang dianggap penuh dengan kepentingan. “Gampang saja membantahnya. Sistem rawi itu sangat ketat aturannya. Orang yang sudah diketahui punya kepentingan kan Haditsnya ditolak semua,”tegasnya.

Apalagi, menurut Lutfi, patokan para perawi bukan dunia, tapi akherat. Kalau mereka berbohong atas nama Nabi mereka takut sekali. Balasannya neraka. “Ini yang membuat mereka tidak pernah berbohong atas nama nabi,”ujarnya.

Ia juga memberi perbandingan bahwa tak ada anak yang mengajukan tes DNA hanya sekadar ingin membuktikan bahw ia benar-benar anak dari orang tuanya. Ini adalah kepercayaan tanpa bukti. Begitu pula soal Hadits dan kepercayaan kita kepada para perawinya.

“Yang lebih berbahaya adalah ulama-ulama Islam yang terpengaruh dengan mereka dan menyebarkannya,” tegas Lutfi.

Sumber, SUARA HIDAYATULLAH SEPTEMBER 2008