Pojok Dekan

KULIAH USHULUDDIN

NAMANYA Fakultas Ushuluddin. Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, fakultas ini membina lima program studi (jurusan), yaitu Ilmu Al-Qur'an & Tafsir (IAT), Aqidah & Filsafat Islam (AFI), Studi Agama-Agama (SAA), Tasawuf &...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

CUMA LEWAT ATAU TINGGALKAN JEJAK

DALAM suatu acara pelepasan mahasiswa, saya didapuk untuk menyampaikan kata-kata "pelepasan". Maksudnya mungkin "nasihat" atau semacam "motivasi" kepada sejumlah mahasiswa yang akan diwisuda.

 

Saya ragu. Apakah saya...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

In Memoriam DR.Afghani Syahuri MA.
Update: Senin, 11-FEB-2019

REQUIREM AETERNAM

 

Oleh : DR.Radea, JH,MA

 

REQUIREM AETERNAM

 

Kabar yang datang adalah kematian. Seorang teman juga sahabat harus "pulang" duluan. Ia menjemput taqdir yang niscaya. Menemui keabadian. Menjumpai "hidup" berikutnya dalam ukuran pengetahuan Tuhan.

 

Kematian itu batas, begitulah orang semacam Jaspers meyakininya. Das umgreifende yang melingkupi, peristiwa pasti yang ditemui. Suka atau tidak, ia bisa tiba pada waktunya. Pada saat gembira. Dikala lengah. Pada waktu tidur. Dan ketika manusia jumawa bahkan lupa seolah nyawa tak ada akhirnya.

 

Kematian itu memudarkan eksistensi sekaligus moment eksistensial. Istri atau suami yang menangis. Anak yang meratap. Kerabat yang tercekat atau kita yang terhenyak mendengar kabarnya. Itulah momen eksistensial. Momen paling dramatis yang meneguhkan kesadaran bahwa kematian adalah abadi yang dihadapi. Peristiwa "tragis" yang melunturkan anggapan manusia sebagai satu-satunya spesies yang paling istimewa.

 

Kematian. Kita hanya sedang menunggu, mungkin juga diburu olehnya. Seumpama antri di balik pintu siapa giliran berikutnya. Tak bisa menghindar. Mustahil mengelak dari ajakan untuk datang menemuinya. "Fainnal mautalladzi taffiruna minhu fainnahu mulaaqiikum".

 

Kepada mereka yang pergi. Kepada siapapun yang menutup mata untuk selamanya. Tuhan berkenan menerimanya. Seumpama tamu istimewa yang disambut dengan kehangatan dan pelukan. Di tempatkan di kursi kehormatan di samping-Nya.

 

Mereka yang sudah sempurna menjemput taqdirnya, berharap jiwa damailah yang menyertainya. Kematian bersama damai yang disertakan itulah "wurdevoller tod" yang ditegaskan Martin Heidegger. Kematian yang punya nilai. Kematian yang bermartabat. "Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu".


    In Memoriam DR.Afghani Syahuri MA.
    Update: Selasa, 12-FEB-2019

    REQUIREM AETERNAM

    Oleh : Radea, JH, MA.

     

    Kabar yang datang adalah kematian. Seorang teman juga sahabat harus "pulang" duluan. Ia menjemput taqdir yang niscaya. Menemui keabadian. Menjumpai "hidup" berikutnya dalam ukuran pengetahuan Tuhan.

     

    Kematian itu batas, begitulah orang semacam Jaspers meyakininya. Das umgreifende yang melingkupi, peristiwa pasti yang ditemui. Suka atau tidak, ia bisa tiba pada waktunya. Pada saat gembira. Dikala lengah. Pada waktu tidur. Dan ketika manusia jumawa bahkan lupa seolah nyawa tak ada akhirnya.

     

    Kematian itu memudarkan eksistensi sekaligus moment eksistensial. Istri atau suami yang menangis. Anak yang meratap. Kerabat yang tercekat atau kita yang terhenyak mendengar kabarnya. Itulah momen eksistensial. Momen paling dramatis yang meneguhkan kesadaran bahwa kematian adalah abadi yang dihadapi. Peristiwa "tragis" yang melunturkan anggapan manusia sebagai satu-satunya spesies yang paling istimewa.

     

    Kematian. Kita hanya sedang menunggu, mungkin juga diburu olehnya. Seumpama antri di balik pintu siapa giliran berikutnya. Tak bisa menghindar. Mustahil mengelak dari ajakan untuk datang menemuinya. "Fainnal mautalladzi taffiruna minhu fainnahu mulaaqiikum".

     

    Kepada mereka yang pergi. Kepada siapapun yang menutup mata untuk selamanya. Tuhan berkenan menerimanya. Seumpama tamu istimewa yang disambut dengan kehangatan dan pelukan. Di tempatkan di kursi kehormatan di samping-Nya.

     

    Mereka yang sudah sempurna menjemput taqdirnya, berharap jiwa damailah yang menyertainya. Kematian bersama damai yang disertakan itulah "wurdevoller tod" yang ditegaskan Martin Heidegger. Kematian yang punya nilai. Kematian yang bermartabat. "Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu". (***)