Pojok Dekan

BAGAIMANA MEMBUAT PERNYATAAN DAN PERTANYAAN...


TOPIK pembicaraan bisa mencakup aspek yang luas tetapi masalah penelitian biasanya dipersempit mengenai hal spesifik yang akan ditangani. Bergantung pada jenis penelitian, hal yang dicari mungkin masalah praktis yang ditujukan...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi Drs. H.O. Djauharudin AR (1933-1995).

Ilmu Harus Membentuk Akhlaq

“….pengamalan ilmu pengetahuan yang diperoleh para mahasiswa harus dapat membentuk watak/karakter mahasiswa. Watak dan karakter itu...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

LAGI, JURUS MAUT NUR KHALIM MEMAKAN KORBAN
Update: Kamis, 14-FEB-2019

Oleh: DR Radea JH MA

 

NUR KHALIM memang pantas jadi teladan. Prosesi damai antara dia dengan muridnya menuai kekaguman juga sanjungan. Seumpama tak terbendung, pujian mengalir dari arah yang tak disangka. Dari mulai politisi hingga praktisi pendidikan. Tak kurang dari pejabat hingga aparat. Pengusaha bahkan rakyat biasa dari mulai yang sekadar memanfaatkan situasi atau mereka yang tulus mengapresiasi.

 

Nur Khalim memang sosok "menyimpang" kalau tidak disebut Super. Di masa ketika kekerasan gampang dimuntahkan, Nur Khalim berlapang dada untuk menampilkan kelembutan dan memafkan. Di zaman ketika sikap merasa terhina harus diselesaikan di meja pengadilan, Nur Khalim memilih damai sebagai cara yang paling bernilai. Di waktu ketika popularitas bisa dimanfaatkan untuk meraih keuntungan, Nur Khalim tampil sebagai sosok berbeda yang menegaskan bahwa martabat dan harga diri tidak bisa dibeli.

 

Sekali lagi, Nur Khalim memang manusia yang "menyimpang". Jurus Maut Pukulan Tanpa Bayangan kembali ditunjukannya secara perlahan tapi pasti. Ia menolak diumrohkan. Ia juga menampik hadiah uang dan sepeda yang diberikan padahal bujukan bertubi dilakukan. Ia tak bersedia diundang ke sebuah televisi di Jakarta untuk sekadar diwawancara. Bahkan, ketika sejumlah wartawan berjubel mengerubuti rumahnya untuk mengorek profile dirinya, Khalim tampak risih. Mukanya terlihat sedih. "Kalau kalian tetap berkumpul di sini, bagaimana anak-anak bisa beroleh pelajaran tambahan"?

 

Berondongan pertanyaan yang diajukan tak mampu merobohkan benteng pertahanan dirinya. Rengekan memelas para kuli tinta tak juga meluluhkan keteguhan pendiriannya. Ia kukuh tak bergeming dengan sikapnya, tak bersedia meladeni wartawan yang mulai kehilangan kesabaran. "Maaf ya, maaf, sudah ya, saya tak ingin terkenal. Saya hanya mau fokus mengajar,” ujarnya lirih sambil segera menutup pintu rumahnya..

 

Para wartawan terpaksa harus gigit jari akibat Pukulan tanpa Bayang Nur Khalim. Bukan hanya wartawan, mereka yang hendak mengapresiasi tulus dengan sejumlah tawaran, apalagi yang berniat mendompleng popularitas untuk kepentingan sesaat terpaksa harus mengsap dada karena tak mendapat kesempatan.

Nur Khalim malah sedih teringat AA anak didik yang menantang dirinya belum masuk sekolah meskipun jalan damai sudah dilakukan. Ia menyesalkan AA yang juga tak mau ikut try out ujian nasional. Ia berharap AA tetap mau belajar dan masuk sekolah seperti sebelum kasus videonya viral.

 

Nur Khalim memang guru honorer dengan gaji 450 ribu perbulan. Bagi pria yang terbiasa tampil perlente atau perempuan yang sigap menjaga penampilan, gaji sebesar itu hanya cukup untuk cuci rambut di salon langganan atau, hanya pantas untuk luluran separuh badan.

Berdasarkan informasi yang saya baca, Nur Khalim tetap tegar bahkan sabar dengan statusnya, mungkin juga dengan besaran gaji yang diterimanya. Bahkan ketika pemaafan dan jalan damainya menuai apresiasi dan pujian, ia tak lantas "menjual" sikapnya itu sebagai kesempatan beroleh keuntungan atau posisi tawar untuk menyempurnakan status honorernya. Nur Khalim tetap dengan dirinya sebagaimana adanya. Tetap dengan kehormatan dan harga dirinya yang menjulang memesona.

 

Tak diragukan. Nur Khalim memang "menyimpang". Menyimpang dari budaya dan kewajaran manusia sekarang. Budaya instan untuk beroleh jabatan bahkan kekuasaan. Kewajaran menerabas jalan pintas untuk meraih kekayaan dan kesuksesan. Budaya tak sabar pada proses dan usaha yang dilakukan. Kewajaran untuk menghamba pada pencitraan dan kepura-puraan.

 

Jangankan meniru Muhammad Saw, mencontoh Nur Khalim pun PASTI saya tak bisa. Igfirlanaa, khalisna yaa  Alloh.


    LAGI, JURUS MAUT NUR KHALIM MEMAKAN KORBAN
    Update: Senin, 18-FEB-2019

    Oleh: DR Radea JH MA

     

    NUR KHALIM memang pantas jadi teladan. Prosesi damai antara dia dengan muridnya menuai kekaguman juga sanjungan. Seumpama tak terbendung, pujian mengalir dari arah yang tak disangka. Dari mulai politisi hingga praktisi pendidikan. Tak kurang dari pejabat hingga aparat. Pengusaha bahkan rakyat biasa dari mulai yang sekadar memanfaatkan situasi atau mereka yang tulus mengapresiasi.

     

    Nur Khalim memang sosok "menyimpang" kalau tidak disebut Super. Di masa ketika kekerasan gampang dimuntahkan, Nur Khalim berlapang dada untuk menampilkan kelembutan dan memafkan. Di zaman ketika sikap merasa terhina harus diselesaikan di meja pengadilan, Nur Khalim memilih damai sebagai cara yang paling bernilai. Di waktu ketika popularitas bisa dimanfaatkan untuk meraih keuntungan, Nur Khalim tampil sebagai sosok berbeda yang menegaskan bahwa martabat dan harga diri tidak bisa dibeli.

     

    Sekali lagi, Nur Khalim memang manusia yang "menyimpang". Jurus Maut Pukulan Tanpa Bayangan kembali ditunjukannya secara perlahan tapi pasti. Ia menolak diumrohkan. Ia juga menampik hadiah uang dan sepeda yang diberikan padahal bujukan bertubi dilakukan. Ia tak bersedia diundang ke sebuah televisi di Jakarta untuk sekadar diwawancara. Bahkan, ketika sejumlah wartawan berjubel mengerubuti rumahnya untuk mengorek profile dirinya, Khalim tampak risih. Mukanya terlihat sedih. "Kalau kalian tetap berkumpul di sini, bagaimana anak-anak bisa beroleh pelajaran tambahan"?

     

    Berondongan pertanyaan yang diajukan tak mampu merobohkan benteng pertahanan dirinya. Rengekan memelas para kuli tinta tak juga meluluhkan keteguhan pendiriannya. Ia kukuh tak bergeming dengan sikapnya, tak bersedia meladeni wartawan yang mulai kehilangan kesabaran. "Maaf ya, maaf, sudah ya, saya tak ingin terkenal. Saya hanya mau fokus mengajar,” ujarnya lirih sambil segera menutup pintu rumahnya..

     

    Para wartawan terpaksa harus gigit jari akibat Pukulan tanpa Bayang Nur Khalim. Bukan hanya wartawan, mereka yang hendak mengapresiasi tulus dengan sejumlah tawaran, apalagi yang berniat mendompleng popularitas untuk kepentingan sesaat terpaksa harus mengsap dada karena tak mendapat kesempatan.

    Nur Khalim malah sedih teringat AA anak didik yang menantang dirinya belum masuk sekolah meskipun jalan damai sudah dilakukan. Ia menyesalkan AA yang juga tak mau ikut try out ujian nasional. Ia berharap AA tetap mau belajar dan masuk sekolah seperti sebelum kasus videonya viral.

     

    Nur Khalim memang guru honorer dengan gaji 450 ribu perbulan. Bagi pria yang terbiasa tampil perlente atau perempuan yang sigap menjaga penampilan, gaji sebesar itu hanya cukup untuk cuci rambut di salon langganan atau, hanya pantas untuk luluran separuh badan.

    Berdasarkan informasi yang saya baca, Nur Khalim tetap tegar bahkan sabar dengan statusnya, mungkin juga dengan besaran gaji yang diterimanya. Bahkan ketika pemaafan dan jalan damainya menuai apresiasi dan pujian, ia tak lantas "menjual" sikapnya itu sebagai kesempatan beroleh keuntungan atau posisi tawar untuk menyempurnakan status honorernya. Nur Khalim tetap dengan dirinya sebagaimana adanya. Tetap dengan kehormatan dan harga dirinya yang menjulang memesona.

     

    Tak diragukan. Nur Khalim memang "menyimpang". Menyimpang dari budaya dan kewajaran manusia sekarang. Budaya instan untuk beroleh jabatan bahkan kekuasaan. Kewajaran menerabas jalan pintas untuk meraih kekayaan dan kesuksesan. Budaya tak sabar pada proses dan usaha yang dilakukan. Kewajaran untuk menghamba pada pencitraan dan kepura-puraan.

     

    Jangankan meniru Muhammad Saw, mencontoh Nur Khalim pun PASTI saya tak bisa. Igfirlanaa, khalisna yaa  Alloh.