Pojok Dekan

RAMADHAN DAN LIVING QUR’AN

GAIRAH membaca Alquran di bulan Ramadhan ini meningkat seiring dengan berbagai keutamaannya yang digembor-gemborkan para penceramah.Tidak ada bacaan paling sering dibaca di bulan suci ini yang melebihi Alquran. Bantuan teknologi...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

RAMADHAN DAN LIVING QUR’AN
Update: Rabu, 23-MEI-2018

GAIRAH membaca Alquran di bulan Ramadhan ini meningkat seiring dengan berbagai keutamaannya yang digembor-gemborkan para penceramah.Tidak ada bacaan paling sering dibaca di bulan suci ini yang melebihi Alquran. Bantuan teknologi medsos menjadikan gairah ini semakin marak dan bervariasi. Pelakunya pun sudah menyasar semua lapisan umat Islam dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ini tentu saja fenomena yang perlu disyukuri terutama dalam konteks berinteraksi dengan Kitab Suci tersebut.

 

 Harapannya, setelah itu, gairah membaca dilanjutkan dengan gairah menghayati (tadabbur) dan menginternalisasi (ta`ammul). Sebab, titah agama menyangkut Alquran ini bukan sekedar membacanya, tetapi lebih dari itu. Memahami dan menginternalisasikan adalah rangkaian yang tidak bisa dipisahkan dari membacanya. Tanpa rangkaian itu, Alquran dikhawatirkan hanya berupa bahan bacaan yang tidak banyak berdampak dalam kehidupan para pembacanya. Adalah ironi besar jika peningkatan gairah membacanya tidak diiringi dengan gairah menghidupkan nilai-nilai yang dikandungnya.

 

 Alquran yang merubah keadaan adalah yang dibaca, dipahami, dan dipraktekkan. Itulah yang telah merformasi masyarakat Arab yang jahiliyah (zulumat) menjadi masyarakat yang bersosio-religius (nur). Itulah yang telah mereformasi Yatsrib yang penuh konflik dan intoleran menjadi Madinah yang damai dan toleran. Itu pulalah yang menjadi energi besar umat Islam generasi awal untuk melahirkan peradaban Islam yang sangat mengagumkan dan membanggakan.

 

Tradisi Tadabbur

Perintah men-tadabburi (menghayati) pesan Alquran adalah perintah dari Kitab Suci itu sendiri. “Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya.” (Q.S. Shad/38:29). Persoalannya, memahami dan menghayatinya bukanlah sesuatu yang mudah. Memahaminya tidak semudah dan sesederhana memahami buku atau kitab biasa. Sebab, Alquran memang bukan kitab biasa, tetapi luar biasa dan penuh mukjizat bukan hanya pada bagian-bagian besarnya, bahkan pada huruf-hurufnya. Maka, wajarlah jika para ulama mensyaratkan kriteria-kriteria tertentu bagi siapa saja yang mau menafsirkan kandungan Alquran.

 

 Untuk menghayati Alquran, apa yang bisa dilakukan oleh orang awam? Kira-kira itu pertanyaan yang mungkin muncul. Jawabannya: Baca terjemahnya, baca tafsirnya, dan konsultasikan dengan ahlinya. Terjemah-Tafsir-Konsultasi (T2K) tidak boleh dipisah. Terjemah—dalam banyak ayat—tidak cukup sebab keterbatasan terjemah tidak bisa mengungkap maksud utuh dari pesan satu ayat. Itu sebabnya, perlu dibaca kitab tafsir yang relatif memuat penjelasan lebih luas. Tapi—juga dalam beberapa kasus—memilih kitab tafsir juga pun dilakukan yang karenanya perlu dikonsultasikan. Konsultasi dengan ahli sebenarnya bukan dalam hal memilih kitab tafsir saja, tetapi juga menyangkut prosedur yang benar dalam memahami dan menghayati Alquran.

 

Prosedur? Ya, memahami Alquran ada prosedurnya. Ada manual-nya. Itulah yang dikupas habis oleh para penulis Ulumul Quran (Ilmu-Ilmu Alquran). Prosedur itu mulai dari etika memahami dan menghayati sampai pada tahapan-tahapannya. Untuk masalah etika sudah sangat familiar, tetapi tidak untuk tahapan-tahapan. Untuk memahami sebuah ayat, misalnya, perlu dipahami maksud perkata (mufradat) sebelum akhirnya dipahami menjadi kesatuan utuh satu ayat. Cukup sampai di situ? Tidak. Boleh jadi untuk sampai pemahaman yang utuh perlu melihat latar belakang turun (sabab nuzul), keterkaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya (munasabah), atau bahkan keterkaitan makna dengan ayat-ayat yang setema di beberapa bagian surat lainnya dalam Alquran. Pada ayat yang “lebih kompleks”, terkadang harus didekati dengan ilmu-ilmu lain, mulai ilmu-ilmu linguistik, bahkan ilmu-ilmu sosial dan ilmu alam.

 

Ada banyak kaidah yang harus diketahui sebelum memahami dan menghayati Alquran. Misalnya, kaidah yang berbunyi “Sebagian Alquran menafsir sebagian lainnya” (Alqur’an yufassiru ba`dhuhu ba`dhan). Ini kaidah yang amat penting diketahui. Dibiasakanlah memahami satu ayat dengan bantuan penjelasan ayat lainnya. Ini supaya tidak melahirkan pemahaman yang parsial dan sepotong-sepotong. Ini—sekali lagi—satu kaidah dari sekian kaidah-kaidah lainnya.

 

 Prosedur perlu ditempuh agar tidak terjadi malpraktik pemahaman dan penghayatan Alquran. Dampaknya pasti akan serius. Bayangkan, pemahaman yang keliru—dengan keyakinan sebagai pesan agama—akan membentuk prilaku tertentu yang tentu saja akan keliru pula. Dikhawatirkan pula hal itu akan mendorong seseorang melakukan perbuatan yang diyakini benar padahal sesungguhnya keliru. Fenomena seperti pernah disinggung oleh Ali bin Abi Thalib melalui ucapannya yang sangat terkenal “Kalimatu haqqin urida bihal bathil” (Ungkapan-ungkapan benar tetapi digunakan untuk kebatilan).

 

Living Quran

 Semua proses interaksi dengan Alquran harus berujung kepada pembumian nilai-nilainya. Itulah living Quran. “Seluruh perilaku Nabi mencerminkan Alqur’an.” Hadits ini menjadi rujukannya. “Kami”, kata sahabat Ibnu Mas`ud, “bila mempelajari sepuluh ayat, tidak akan beranjak kepada kelanjutan ayat sebelum benar-benar dapat mengamalkannya.” Inilah tahapan paling penting dari semua tahapan. Dalam kitab Kayfa Nata`amal ma`al Quran (Bagaimana seharusnya Kita Berinteraksi dengan Alquran?), al-Qaradhawi menjelaskan bahwa Alquran harus dihidupkan karena mengandung sumber nilai dalam semua aspek kehidupan. Prinsip-prinsip kehidupan dibahas dengan baik olehnya. Bukti konkrit paling nyata dalam menghidupkan nilai Alquran adalah menjadikannya sebagai akhlak sehari-hari.

 

 Menghidupkan nilai-nilainya bahkan seharusnya menjadi inti dari peringatan Nuzulul Quran di bulan Ramadhan ini. Peringatan itu sejatinya membangkitkan elan vital untuk menghidupkan nilai-nilai Alquran dalam hingar bingar kehidupan. Inilah momentum terbaik untuk semakin mendekatkan Alquran dengan umat Islam. Itu sebabnya, kesan rutinitas dan formalitas sebaiknya dihindari. Inilah saatnya umat Islam semakin menyadari perlunya meningkatkan intensitas interaksi dengan Alquran. Dengan Alquran kita pasti bahagia.

 

Catatan: //

Tulisan ini telah di muat di Koran Umum Republika pada 17 Meri 2018