Pojok Dekan

KULIAH USHULUDDIN

NAMANYA Fakultas Ushuluddin. Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, fakultas ini membina lima program studi (jurusan), yaitu Ilmu Al-Qur'an & Tafsir (IAT), Aqidah & Filsafat Islam (AFI), Studi Agama-Agama (SAA), Tasawuf &...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

CUMA LEWAT ATAU TINGGALKAN JEJAK

DALAM suatu acara pelepasan mahasiswa, saya didapuk untuk menyampaikan kata-kata "pelepasan". Maksudnya mungkin "nasihat" atau semacam "motivasi" kepada sejumlah mahasiswa yang akan diwisuda.

 

Saya ragu. Apakah saya...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

PRODI IAT DAN AFI MENUJU ASSESMENT ASIA TENGGARA
Update: Selasa, 3-SEP-2019

TP, IH dan SAA Didorong Terakreditasi A


USHULUDDIN NEWS - Dekan Fakults Ushuluddin UIN Bandung, DR Wahyudin Darmalakasna, MA memastikan akan melibatkan kalangan profesional dalam menyusun rencaca strategis (Renstra) fakultas. Hal itu disampaikan Dekan saat rapat persiapan kuliah dengan para dosen di Aula Fakultas Ushuluddin pekan lalu.

Menurut dekan ada beberapa agenda penting yang harus dicapai Fakultas Ushuluddin dalam empat tahun ke depan. Salah satunya adalah mendorong Program Studi (Prodi) yang sudah terakreditasi A yakni prodi Ilmu Alquran Tafsir (IAT) dan (Aqidah Filsafat Islam AFI fokus ke menuju assesment Asia Tenggara ditambah akreditasi jurnal untuk prodi AFI. Sedangkan untuk prodi yang belum terakreditasi A yakni Tasawuf Psikoterapi (TP), Ilmu Hadits (IH) dan Studi Agama Agama akan didorong untuk mendapatkan nilai akreditasi terbaik.

Menanggapi hal itu, seorang dosen bernama Ahmad Gibson mengusulkan Fakultas menuangkan renstra yang akan disusun dalam sebuah buku panduan berupa Manual Rencana Strategis Fak Ushuluddin. Menurut Ahmad Gibson sejumlah gagasan dan ide tentang pengembangan Fakultas akan tertulis dalam buku tersebut  sehingga seluruh civitas akademika ushuluddin bisa merujuk ke buku tersebut.

Terkait dengan usulan tersebut Dekan mengungkapkan hingga desember 2019 ini hanya bisa disusun indikator-indikator akreditasi program studi yang tidak mungkin dilepaskan dari renstra universitas. "Tapi bahwa qita membutuhkan renstra untuk menjadi acuan dalam bekerja itu penting," ungkapnya.

Selain itu Dekan mengatakan, saat ini di Fakultas Ushuluddin diperlukan satuan tugas (taskforce) yang secara khusus akan bekerja memberikan pelayanan kepada mahasiswa,  mengurus BKD/LKD, Remuneurasi dan Kenaikan Jabatan Akdemikserta secara khusus memberi panduan dalam Academic writting.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekan taskforce tersebut sudah tersusun dan mulai bekerja," ujarnya. (edited by nurholis)