Pojok Dekan

RAMADHAN DAN LIVING QUR’AN

Gairah membaca Alquran di bulan Ramadhan ini meningkat seiring dengan berbagai keutamaannya yang digembor-gemborkan para penceramah.Tidak ada bacaan paling sering dibaca di bulan suci ini yang melebihi Alquran. Bantuan teknologi medsos...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi Drs. H.O. Djauharudin AR (1933-1995).

Ilmu Harus Membentuk Akhlaq

“….pengamalan ilmu pengetahuan yang diperoleh para mahasiswa harus dapat membentuk watak/karakter mahasiswa. Watak dan karakter itu...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

STUDI KEKUASAAN NEGARA YAHUDI DAN ISLAM BAWA MULYANA RAIH GELAR DOKTOR
Update: Rabu, 2-JAN-2019

"STUDI ini menganalisa kekuasaan negara berbasis agama, dengan fokus penelitian Negara Yahudi dan Islam. Mengaku sebagai manusia pilihan Tuhan, ternyata Yahudi awal dihadapkan pada masalah spritual, politik, ekonomi, dan masalah kekuatan  militer." Demikian di jelaskan Mulyana, Lc, MA yang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung dalam Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN Bandung, Senin (31/12) kemarin.

Mulyana, tampil sebagai promovendus dengan judul disertasi Agama Dan Negara (Studi Teologis-Filosofis Kekuasaan Negara Dalam Yahudi dan Islam) Agama Dan Negara (Studi Teologis-Filosofis Kekuasaan Negara Dalam Yahudi dan Islam). Dalam sidang tersebut Mulyana menjalaskan berbagai masalah yang dihadapi bangsa Yahudi membawa mereka pada perjalanan panjang yang penuh penderitaan baik itu  penderitaan fisik, psikologis, teologis dan politis.

"Sejarah awal bangsa Yahudi mencatat mereka pernah mengalami  ketidakpastian dan ketidakberdayaan, dan menjadi manusia pengelana yang tidak memiliki negara." Jelas Mulyana.

Kondisi sebaliknya, lanjut Mulyana, justru terjadi di dunia Islam. "Islam, landasan teologis filosofis pijakan politik cukup jelas asal usulnya, pengalaman Muhammad saw di Mekkah dan Madinah jadi bukti yang tidak bisa dipungkiri," ujarnya. 

Yang menjadi masalah,  kata Mulyana, adalah Islam berikutnya tidak mampu menghadirkan kekuaasaan negara secara utuh satu padu. Berbarengan dengan tersebarnya Islam ke berbagai belahan dunia, agama dan kekuasaan negara menjadi unik. Terdapat ruang kosong yang dianggap sebagai peluang dan tantangan bagi Islam untuk menegakan kembali agama dan negara yang satu padu dan utuh. Karena itu, pijakan teologis-filosofis kekuasaan negara dalam Agama Yahudi dan Islam menjadi hal yang menarik untuk diterliti.

Mulyana berharap, penelitian ini bisa menjelaskan secara teoritis landasan teks kekuasaan negara dalam Agama Yahudi dan Islam. Dengan demikian hasil penelitian ini  akan menjadi sumbangan pemikiran bagi para peneliti filsafat tatanegara yang berbasis agama Abrahamik. Adapun pendekatan keilmuan yang digunakan untuk menjelaskan, adalah teologi dan filsafat agama dan teori Teokrasi untuk menganalisa kekuaasaan negara.

Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa pertama;  secara teologis dalam Yahudi, agama dan negara suatu iman tak terpisahkan. Membangun negara adalah panggilan Tuhan, warisan Perjanjian Lama. Atas dasar landasan teologis,Yahudi membangun sebuah negara yang didasarkan pada pijakan interpretasi agama. Sedangkan dalam Islam, landasan teologis filosofis pijakan politik cukup jelas asal-usulnya.  Islam membangun kembali kekuasaan negara berdasarkan interpretasi wahyu Tuhan, adalah sangat cukup alasan teologis asal-usulnya. Kedua; secara rasional dalam Yahudi berdirinya negara; semangat zionisme, kesamaan identitas kelompok, bencana holocause dan bangsa yang terdiasporakan. Sedangkan dalam Islam, terdapat argumen,  Islam mendorong untuk memelihra; agama, akal, jiwa, harta dan memelihara keturunan. Hal- hal ini, yang di dambakan masyarakat muslim. "Tidak bisa terlindungi secara utuh dan selamat masyarakat muslim, jika tidak ada  negara dan pemimpin yang melindungi," katanya.

Ketiga, implikasinya dalam Yahudi, kekuasaan di muka bumi suatu kemestian yang dipertahankan. Karena atas dasar interpretasi agama dan kesamaan identitas kelompok. Sedangkan dalam Islam, agama dan kekuasaan negara diperjuangkan sampai akhir hayat sebagai jihad. Semangat agama yang disebut –jihad- membakar jiwa kelompok masyarakat muslim yang  beriman, sehingga membangun teologi tersendir, mengkristal menjadi  idiologi dan rasa patriotisme. Karena itu, cinta tanah air bagian dari iman.


Dari temuan itu, Mulyana berkesimpulan , kekuasaan negara Yahudi atas dasar klaim yang dinyatakan berasal dari Janji Tuhan, ini adalah  interpretasi klaim restu Kitab Suci yang  telah gagal. Karena Yahudi kuno tidak berhasil mematuhi perintah Tuhan. Sebab  itu sudah kehilangan janji Tuhan. Sedangkan dalam Islam, sebagai rahmatan lilalamin, merupakan agama Abrahamik terakhir yang berlaku sampai akhir zaman, seluruh perintahnya berlaku bersamaan dengan berakhirnya zaman.(nurholis)